Gresik, aku pulang! Tiga tahun sudah aku berlebaran di negeri tetangga. Malaysia, Negara yang saat ini mungkin sudah menjadi musuh nomer satu masyarakat Indonesia gara-gara kelakuannya yang menurutku juga sangat menyebalkan. Enak saja mereka mengambil kebudayaan asli Indonesia. Ah, tapi sudahlah bisa-bisa aku di usir oleh ibu kostku di sana, bisa-bisa aku tidak boleh kuliah disana, bisa-bisa teman-teman merindukanku. Tapi tunggu dulu. Teman? Di Malaysia aku punya banyak. Di Gresik? Sepertinya tidak ada. Ini semua karena kesalahanku dulu. Kesalahan yang teramat besar. Yang menyebabkan aku kehilangan teman terbaik di muka bumi ini.
Namaku Vaya, waktu SMA aku punya seorang sahabat yang sangat pengertian namanya Clara. Kita berteman dari SD. Kita banyak melakukan hal-hal gila, bodoh hingga yang hebat. Yang paling menakjubkan adalah kita pernah menjadi panitia pengumpulan dana untuk anak jalanan. Ya, hanya kita berdua! Pak Wahyu, guru pembina OSISku melihat langsung acara amal ini. Beliau kagum dengan kerja keras kita berdua. Singkat cerita, beliau ingin aku dan Clara menjadi pengurus OSIS. Akhirnya terpilihlah aku menjadi ketua OSIS sedangkan Clara menjadi wakil ketua.
Bulan itu bulan April. Ada perayaan HUT SMA Budi Oetomo. Aku sebagai ketua OSIS harus siap jadi seksi sibuk. Aku optimis acara itu akan sukses. Tapi entah kenapa semua berbanding terbalik. Acara gagal, semua kecewa dan yang paling parah kas OSIS sebesar Rp. 1.000.000 raib bagai ditelan bumi.
"Bapak sangat kecewa dengan kamu Vay. Saya kira kamu bisa diandalkan ternyata kemampuanmu sama saja dengan murid lain. Maaf, mulai minggu depan kamu tidak bisa lagi menjadi ketua OSIS. Clara yang akan menggantikanmu"kata Pak Wahyu saat itu dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Marah, sedih, malu dan sejuta perasaan kecewa berkecamuk di hatiku. Sejak saat itu aku yang sebelumnya memang pendiam menjadi lebih tertutup, terutama dengan Clara. Egoku yang setinggi gunung Himalaya rupanya tidak terima begitu saja dengan posisi yang diterima Clara. Hubungan kami menjadi renggang.
Pagi itu aku memasuki gerbang sekolah dengan heran. Semua anak kelas 3 berkumpul di depan ruang guru.ada yang membawa spanduk, kertas karton berukuran raksasa dan papan tulis warna putih alias whiteboard.
"Ada apa ini?"tanyaku pada seorang anak yang melintas di depanku
"Lho, kamu ga tau? Ada demonstrasi pagi ini"jawab gadis berambut sebahu itu.
"Demo? Demo apaan?"
"Korupsi. Pak Wahyu kan korupsi kas OSIS. Clara yang mengkoordinir demo ini. Clara sudah mengumpulkan bukti-buktinya"
"Ooo..ya sudah. Makasih buat infonya ya."
"Yuuuk.."katanya sambil berlalu pergi
Aku tidak ingin ikut campur dalam demo itu. Aku takut akan berbuat kesalahan lagi. Aku takut membuat guru-guruku kecewa lagi. Jadi lebih baik aku bermeditasi di kelas saja alias tidur. Pada saat jam istirahat Pak Wahyu datang ke kelasku dengan tergopoh-gopoh.
"Vay! Bangun! Kamu harus membantu Bapak."kata Pak Wahyu dengan nada tinggi. Keningnya berkeringat. Nafasnya tersengal-sengal seperti habis lari marathon
"Bantu apa Pak?"
"Kamu harus mengaku bahwa hilangnya kas OSIS disebabkan kesalahanmu pada Pak KepSek"
"Tapi Pak.."
"Vay, apa kamu ingat kamu telah membuat kecewa saya. Sekarang saatnya kamu menebus itu semua. Jabatan Ketua OSIS bukan tidak mungkin akan menjadi milikmu kembali."
"Baiklah Pak."aku mengangguk lemah.
Lalu semua berlangsung cepat. Aku membuat pengakuan di depan Pak Yoga, Kepala Sekolahku. Demonstrasi pun dibubarkan karena memang aku sebagai pihak yang dibela Clara dan kawan-kawan malah memberikan keterangan yang menguntungkan Pak Wahyu. Kulihat pandangan kekecewaan dalam mata Clara. Ia berbalik dan menangis dalam pelukan Rani, teman sebangkunya
Semula aku bahagia. Kurang apa aku? Aku dari kalangan berada, selalu ranking satu di kelas dan saat ini aku menjabat menjadi ketua OSIS lagi. Posisi yang sebagian besar murid SMA inginkan. Ibarat menjadi presiden untuk rakyat SMA!
Lambat laun aku merasa ada yang kurang dalam hidupku. Tak ada lagi yang membuatku tertawa karena leluconnya, menangis bahagia karena kejutan-kejutan kecilnya dan tak ada lagi yang menemani kala aku jatuh terpuruk. Ini juga salah satu alasan mengapa aku memilih kuliah di Malaysia. Aku ingin memulai lembaran baru. Mencari sahabat sebanyak-banyaknya dan tak akan menjadi manusia ber-ego Himalaya lagi.
Sekarang aku ada disini. Di Gresik kota yang penuh seribu kenangan tentang Clara Kota yang tenang. Tidak seperti Kuala Lumpur yang bising. Meskipun tidak memiliki pantai seindah pantai Rompin di Pahang, Gresik tetap yang terindah bagiku. Hufft..kira-kira bagaimana kabar Clara sekarang ya. Kubulatkan tekat. Kuraih handphone ku dan kuketik SMS untuk Clara.
Clara, ada waktu g? Aku lg di grsk skrg. Ktmuan yuk?status delivered.
Ada donk!jam 9 kutunggu di rmh. Awas klo g dtg!jgn lupa bw cemilan!hehehe
Yes! Kukepalkan tanganku. Clara masih seperti yang dulu. Clara, kamu memang sahabat sejati!
cerpen pertama..
smoga bukan yang terakhir ya..^^